Kamis, 03 Juni 2010

gejala disleksia

Mungkin anak anda atau salah satu anggota keluarga anda mengalami satu dari beberapa hal berikut ini, bentuk kesulitan yang berhubungan dengan kata-kata, seperti kesulitan cara membaca,mengeja,menulis, maupun memahami kata-kata.

Gejala seperti diatas biasa disebut dengan disleksia. Amati gejala-gejala berikut sehingga anda bisa segera menanganinya ketika menimpa anak anda.

Gejala-gejala:

* Sulit menyebutkan nama benda (anomi) amat sederhana sekalipun seperti pensil,sendok,arloji, dll. Padahal penderita mengenal betul benda itu.
* Gangguan bisa juga dalam kemampuan menuliskan huruf, misalnya b ditulis dibaca d, p ditulis dibaca q dan sebaliknya.
* Bisa juga salah dalam mengeja atau membaca rangkaian huruf gajah dibaca atau ditulis jagah
* Kekurangan atau kelebihan huruf dalam menulis
* Sulit mengingat arah kiri dan kanan, sulit membedakan waktu ( hari ini,kemarin, dan besok)
* Sulit mengingat urutan
* Sulit mengikuti instruksi verbal
* Sulit berkonsentrasi
* Perhatiannya mudah teralih
* Sulit berkomunikasi karena bahasanya kaku dan tidak berurutan
* Seringkali mengalami kesulitan berhitung terutama bila disampaikan dalam bentuk cerita
* Tulisannya sulit dibaca
* Kurang percaya diri

Walupun sulit membaca kata-kata, biasanya mereka tidak menjumpai kesulitan dalam membaca angka atau not balok, kecuali kalau mereka menderita disleksia angka.

Jadi jangan menganggap anak disleksia sebagai anak terbelakang atau bodoh.Penanganan dini dan ketekunan serta motivasi yang kuat akan mengatasi kelainan ini.

Banyak orang terkenal seperti Sir winston Churchil (1874-1965), mantan perdana menteri Inggris, Sir Isaac Newton (1642-1727), ahli fisika yang menemukan gaya tarik bumi, Albert Einstein(1879-1955), ahli fisika lain yang menemukan teori kosmos, dianggap bodoh sewaktu mereka kecil karena kurang berprestasi. Namun, di kemudian hari malah dielu-elukan dunia karena prestasinya.

Anak disleksia bisa belajar di sekolah biasa ataupun sekolah khusu tergantung dari efek disleksia tersebut. Bila anak masih dapat mengikuti pelajaran dengan nilai “cukup” dan perkembangan sosial emosinya tidak terganggu, anak masih mungkin belajar di sekolah biasa.

Tetapi jika disleksia amat menggangu anak belajar dan prestasi belajar, bahkan tidak naik kelas sebaiknya disekolahkan di tempat khusus. Sehingga anda tidak repot untuk mengajar membaca.

http://www.sahabatwanita.com/gejala-kesulitan-membaca-pada-anak

Kesulitan Belajar Pada Anak - Dyslexia

Kesulitan Belajar Pada Anak - Dyslexia

Saat anak memasuki jenjang sekolah dasar merupakan salah satu momen istimewa bagi anak itu sendiri dan juga bagi orang tuanya. Sistem belajar yang sudah mulai “serius” membawa kita pada nuansa berbeda saat anak lepas dari Taman Kanak Kanak dan memasuki dunia barunya di Sekolah Dasar.

Saat anak memasuki jenjang sekolah dasar merupakan salah satu momen istimewa bagi anak itu sendiri dan juga bagi orang tuanya. Sistem belajar yang sudah mulai “serius” membawa kita pada nuansa berbeda saat anak lepas dari Taman Kanak Kanak dan memasuki dunia barunya di Sekolah Dasar. Seiring dengan itu, sebagian orang tua dan guru mendapatkan beberapa masalah terjadi pada anak muridnya, baik itu masalah interaksi sosial dan kemandirian dimana anak masih mengalami periode transisi dari keadaan di TK yang banyak didampingi, ke SD yang lebih mandiri; ataupun masalah kesulitan belajar yang dialami anak-anak. Sejauh mana kesulitan belajar pada anak-anak harus kita cermati dan bagaimana intervensinya agar tidak menimbulkan masalah yang lebih besar kelak? Apakah ini yang disebut sebagai “dyslexia”atau kesulitan belajar spesifik? Mari kita simak penjabaran di bawah ini.


Istilah “kesulitan belajar” secara umum diterapkan pada keadaan dimana kesulitan belajar yang ditemui disandang oleh individu yang memang mengalami gangguan neurologis / gangguan perkembangan seperti Autis, tuna grahita, Down Syndrome, gangguan dengar berat, gangguan penglihatan berat, cerebral palsy, dan sindrom-sindrom lainnya. Kesulitan belajar terjadi pada individu dengan tingkat intelegensi yang memang di bawah rata-rata, sehingga sesungguhnya kesulitan tersebut merupakan hal yang”wajar” dan sudah dapat diprediksikan sebelumnya. Anak anak yang tergolong mengalami kesulitan belajar sebaiknya dicermati dengan seksama dan dicari gangguan perkembangan yang mendasarinya, serta perlu dipastikan tingkat kognisinya agar kita dapat menentukan kurikulum pendidikan yang pas untuknya.


Terminologi lain yang sering tertukar pengertiannya dengan “kesulitan belajar” adalah “kesulitan belajar spesifik” atau dikenal sebagai “dyslexia”. Dyslexia berasal dari bahasa Greek yaitu “dys” berarti kesulitan, dan “lexis” yang berarti bahasa, sehingga dyslexia bermakna sebagai kesulitan belajar spesifik berupa kesulitan membaca, mengeja, dan menulis, yang tidak sebanding dengan tingkat intelegensinya karena dyslexia justru terjadi pada anak yang mempunyai riwayat perkembangan normal dan tingkat kecerdasan yang normal, bahkan di atas rata-rata. Dyslexia terjadi karena adanya perbedaan cara pengolahan input bahasa/symbol pada otak penyandang dyslexia dibandingkan dengan otak anak yang bukan penyandang dyslexia. Hal ini berakibat individu penyandang dyslexia melakukan proses pembelajaran yang berbeda dari individu lainnya yang tidak dyslexia. Penelitian terkini membuktikan bahwa dyslexia merupakan suatu keadaan yang diturunkan (bersifat herediter) dan terdapat faktor gen tertentu yang bertanggung jawab atas terjadinya keadaan ini. Dyslexia biasanya ditunjukkan dengan kesulitan seorang anak terutama di area mengenal huruf, mengenal angka, membaca, menulis, mengeja, dan disertai dengan keluhan gangguan konsentrasi, serta mudah lupa.

Anak juga kerap menunjukkan sikap yang tidak bisa duduk tenang saat mengikuti pelajaran, duduk selonjoran atau bertumpu pada tangan, grasa-grusu sehingga menjatuhkan pensil atau buku yang ada di mejanya. Dyslexia tidak diakibatkan karena suatu kebodohan dan tidak disebabkan oleh latar belakang sosial ekonomi keluarga yang buruk, atau oleh paparan membaca yang kurang ataupun karena anak kurang motivasi belajar. Penyandang dyslexia juga biasanya mempunyai talenta khusus yang istimewa di bidang-bidang tertentu. Individu dewasa penyandang dyslexia yang dikenal luas berprestasi gemilang diantaranya adalah Leonardo da Vinci, Albert Einstein, Thomas Alfa Edison dan mantan PM Singapur, Mr. Lee Kwan Yu.


Apa yang dapat kita lakukan bagi penyandang dyslexia?
Penyandang dyslexia membutuhkan remediasi yang intensif pada aspek baca tulis hitung yang menjadi area “kelemahannya” dengan teknik multi sensoris, artinya dalam proses belajar dibantu dengan dukungan visual (gambar), auditori (suara, lagu) dan kinestetik (gerakan, tekstur). Selain itu sekolah dapat melakukan berbagai akomodasi semisal memberikan kertas kerja yang ukuran hurufnya lebih besar dan jarak antar barisnya lebih jarang. Anak anak ini juga mungkin perlu didampingi saat menerima instruksi verbal karena sering salah menyimak sehingga salah mengerjakan instruksi. Pada beberapa keadaan, guru dapat merubah tes tulis menjadi tes lisan, atau menambah waktu yang dibutuhkan pada ujian tulis yang diberikan.


Penelitian terkini membuktikan bahwa penyandang dyslexia dapat “mengatasi” kesulitan belajarnya dengan lebih baik jika kesulitan belajar ini dikenali dan diintervensi lebih dini. Artinya, para guru dan orang tua serta professional terkait (dokter anak, psikolog, orthopedagog, dll) membutuhkan ketrampilan tambahan untuk dapat mengenali disleksia secara dini dan melakukan intervensi yang komprehensif bagi mereka, bahkan di usia sebelum memasuki sekolah dasar.

http://www.jendelaanakku.com/index.php?option=com_content&view=article&id=59:kesulitan-belajar-pada-anak-dyslexia-bukan&catid=1:perkembangan-anak-a-perilaku-anak&Itemid=50

Anak autis juga bisa belajar

Anak autis juga bisa belajar
Browser Anda mungkin tidak bisa menampilkan gambar ini. Browser Anda mungkin tidak bisa menampilkan gambar ini.

Saat si kecil terdiagnosa mempunyai bakat khusus berupa autisme, rasa kaget tak dapat dipungkiri pasti ada di pikiran Anda. begitu juga dengan kehidupannya nanti. Bagaimana caranya belajar? Bagaimana nanti dengan perkembangannya? Apa yang sesungguhnya dibutuhkan anak autis? Semoga yang di bawah ini dapat membantu menjawab berbagai pertanyaan Anda.


1. Terapi apa yang paling cocok bagi anak autis?
Untuk menentukan terapi yang paling cocok bagi anak autis pada awalnya perlu dilakukan asesmen atau pemeriksaan menyeluruh terhadap anak itu sendiri. Asesmen itu bertujuan untuk mengetahui derajat keparahan, tingkat kemampuan yang dimilikinya saat itu, dan mencari tahu apakah terdapat hambatan atau gangguan lain yang menyertai. Biasanya terapi yang diberikan adalah terapi untuk mengembangkan ketrampilan-keterampilan dasar seperti, ketrampilan berkomunikasi, dalam hal ini keterampilan menggunakan bahasa ekspresif (mengemukakan isi pikiran atau pendapat) dan bahasa reseptif (menyerap dan memahami bahasa). Selain itu, terapi yang diberikan juga membantu anak autis untuk mengembangkan ketrampilan bantu diri atau self-help, ketrampilan berperilaku yang pantas di depan umum, dan lain-lain. Dengan kata lain, terapi untuk anak autis bersifat multiterapi.

2. Apa kendala paling sulit pada saat terapi anak autis?
Kendala pada terapi anak autis tergantung pada kemampuan unik yang ia miliki, ada anak autis yang dapat berkomunikasi, ada yang sama sekali tidak. Namun sebagian besar anak autis memiliki keterbatasan atau hambatan dalam berkomunikasi sehingga ini menjadi kendala besar saat terapi. Anak belum dapat mengikuti instruksi guru dengan baik. Bahkan anak kadang tantrum saat diminta mengerjakan tugas yang diberikan. Terkadang anak autis suka berbicara, mengoceh, atau tertawa sendiri pada waktu belajar.

3. Bagaimana sikap anak autis saat menjalani terapi?
Biasanya anak autis memiliki hambatan atau keterbatasan dalam berkomunikasi. Hal tersebut terlihat dari perilaku mereka yang cenderung tidak melihat wajah orang lain bila diajak berinteraksi, sebagian besar kurang memiliki minat terhadap lingkungan sekitar, dan sebagian cenderung tertarik terhadap benda dibandingkan orang.

4. Apa perubahan yang diharapkan setelah terapi?
Pada akhirnya, anak autis diharapkan dapat memiliki berkomunikasi, yang tadinya cenderung bersifat satu arah menjadi dua arah. Dalam artian ada respon timbal balik saat berkomunikasi atau bahasa awamnya “nyambung”. Kemudian perubahan lain yang juga diharapkan adalah memiliki ketrampilan bantu diri, kemandirian, serta menyatu dan berfungsi dengan baik di lingkungan sekitarnya. Hasil yang menggembirakan tentu sangat diharapkan orang tua anak penderita autis. Ini terlihat bila anak tersebut sudah dapat mengendalikan perilakunya
sehingga tampak berperilaku normal, berkomunikasi dan berbicara normal,
serta mempunyai wawasan akademik yang cukup sesuai anak seusianya.

5. Seberapa cepat perubahan akan terlihat?
Perubahan atau kemajuan yang terjadi tentunya bersifat individual. Hal tersebut tergantung pada hasil asesmen, gaya belajar anak autis, dan intensitas dari terapi atau pendidikan yang diberikan serta kerjasama antara orangtua, pengasuh anak dengan para pendidik, terapis atau ahli kesehatan

6. Bagaimana mengenai pendidikan anak autis?
Perlu diketahui bahwa setiap anak autis memiliki kemampuan serta hambatan yang berbeda-beda. Ada anak autis yang mampu berbaur dengan anak-anak ’normal’ lainnya di dalam kelas reguler dan menghabiskan hanya sedikit waktu berada dalam kelas khusus namun ada pula anak autis yang disarankan untuk selalu berada dalam kelas khusus yang terstruktur untuk dirinya. Anak-anak yang dapat belajar dalam kelas reguler tersebut biasanya mereka memiliki kemampuan berkomunikasi, kognitif dan bantu diri yang memadai. Sedangkan yang masih membutuhkan kelas khusus biasanya anak autis dimasukkan dalam kelas terpadu, yaitu kelas perkenalan dan persiapan bagi anak autis untuk dapat masuk ke sekolah umum biasa dengan kurikulum umum namun tetap dalam tata belajar anak autis, yaitu kelas kecil dengan jumlah guru besar, dengan alat visual/gambar/kartu, instruksi yang jelas, padat dan konsisten, dsb).

7. Bagaimana metode belajar yang tepat bagi anak autis?
Metode belajar yang tepat bagi anak autis disesuaikan dengan usia anak serta, kemampuan serta hambatan yang dimiliki anak saat belajar, dan gaya belajar atau learning style masing-masing anak autis. Metode yang digunakan biasanya bersifat kombinasi beberapa metode. Banyak, walaupun tidak semuanya, anak autis yang berespon sangat baik terhadap stimulus visual sehingga metode belajar yang banyak menggunakan stimulus visual diutamakan bagi mereka. Pembelajaran yang menggunakan alat bantu sebagai media pengajarannya menjadi pilihan. Alat Bantu dapat berupa gambar, poster-poster, bola, mainan balok, dll. Pada bulan-bulan pertama ini sebaiknya anak autis didampingi oleh seorang terapis yang berfungsi sebagai guru pembimbing khusus

8. Pengajar seperti apa yang dibutuhkan bagi anak autis?
Pengajar yang dibutuhkan bagi anak autis adalah orang-orang yang selain memilii kompetensi yang memadai untuk berhadapan dengan anak autis tentunya juga harus memiliki minat atau ketertarikan untuk terlibat dalam kehidupan anak autis, memiliki tingkat kesabaran yang tinggi, dan kecenderungan untuk selalu belajar sesuatu yang baru karena bidang autisma ini adalah bidang baru yang selalu berkembang.

9. Suasana belajar seperti apa yang dibutuhkan anak autis?
Tergantung dengan kemampuan dan gaya belajar masing-masing anak autis. Ada anak autis yang mencapai hasil yang lebih baik bila dibaurkan dengan anak-anak lain, baik itu anak ’normal’ maupun anak-anak dengan kebutuhan khusus lainnya. Ada anak autis yang lebih baik bila ditempatkan pada suasana belajar yang tenang, tidak banyak gangguan atau stimulus suara, warna, atau hal-hal lain yang berpotensi mengalihkan perhatian.

10. Apa saja yang diajarkan dalam pendidikan anak autis?
Komunikasi (bahasa ekspresif dan reseptif), ketrampilan bantu diri, ketrampilan berperilaku di depan umum, setelah itu dapat diajarkan hal lain yang disesuaikan dengan usia dan kematangan anak serta tingkat inteligensi,.

11. Sampai umur berapa tahun anak autis mendapat pendidikan khusus?
Semua itu sekali lagi tergantung pada kemampuan anak, gaya belajar anak, serta sejauh mana kerjasama antara orangtua atau pengasuh dengan pendidik atau terapis.

12. Umur berapa anak sudah dapat dilepas masuk ke sekolah umum?
Lagi-lagi hal ini tergantung pada kemampuan anak.

13. Berapa besar kemungkinan anak autis berbaur dengan murid lain di sekolah biasa?
Kemungkinan selalu ada. Akan tetapi semua itu tergantung pada kemampuan anak autis tersebut dan apakah sistem pendidikan atau fasilitas di sekolah ’biasa’ itu mendukung berbaurnya anak autis dengan murid-murid lain dalam kelar reguler.

14. Apakah pada akhirnya anak autis dapat hidup di lingkungan umum tanpa perlakuan khusus?
Untuk beberapa kasus yang amat jarang terjadi (sampai saat ini), ada individu dengan autisma dengan kemampuan berkomunikasi yang memadai, tingkat inteligensi yang memadai, serta pendidikan dapat mendukung dirinya untuk mandiri dan berbaur dengan lingkungan tanpa perlakuan khusus. Hal ini bergantung pada faktor internal (diri anak autis sendiri) dan faktor eksternal, yaitu lingkungan, apakah sistem di lingkungan mendukung atau memungkinkan anak autis untuk dapat berfungsi secara baik dalam kesehariannya.

http://www.parenting.co.id/article/article_detail.asp?catid=2&id=12

Kesulitan Belajar = Disleksia

Kesulitan Belajar = Disleksia

Disleksia biasanya ditunjukkan dengan kesulitan seorang anak terutama saat mengenal huruf, mengenal angka, membaca, menulis, mengeja yang disertai keluhan gangguan konsentrasi serta mudah lupa. SAAT anak memasuki jenjang sekolah dasar merupakan salah satu momen istimewa bagi anak itu sendiri juga orang tuanya. Sistem belajar yang sudah mulai "serius" membawa kita pada nuansa berbeda saat anak lepas dari taman kanak-ka- nak dan memasuki dunia barunya di sekolah dasar.

Seiring dengan itu, sebagian orang tua dan guru mendapatkan beberapa masalah terjadi pada anak muridnya, baik itu masalah interaksi sosial maupun kemandirian. Anak ma- sih mengalami periode transisi dari keadaan di taman kanak-kanak yang banyak didampingi, ke sekolah dasar yang lebih mandiri. Masalah kesulitan belajar pun sering dialami anak-anak. Sejauh mana kesulitan belajar pada anak-anak harus kita cermati dan bagaimana intervensinya agar ndak menimbulkan masalah yang lebih besar kelak? Apakah ini yang disebut sebagai dys-lexia atau kesulitan belajar spesifik? Mari kita simak penjabaran di bawah ini.

Tak sama Istilah "kesulitan belajar" secara umum diterapkan pada keadaan ketika kesulitan belajar yang ditemui disandang oleh individu yang memang mengalami gangguan neurolo-gis/gangguan perkembangan seperti autis, tunagrahita, down syndrome, gangguan dengan berat, gangguan penglihatan berat, cerebral palsy, dan sindrom-sindrom lainnya.

Kesulitan belajar terjadi pada individu dengan tingkat intelegensi yang memang di bawah rata-rata sehingga sesungguhnya kesulitan tersebut merupakan hal yang "wajar" dan sudah dapat diprediksikan sebelumnya. Anak-anak yang tergolong mengalami kesulitan belajar sebaiknya dicermati dengan saksama dan dicari gangguan perkembangan yang mendasarinya serta perlu dipastikan tingkat kognisi-nya agar kita dapat menentukan kurikulum pendidikan yang pas untuknya.

Terminologi lain yang sering tertu-kar pengertiannya dengan "kesulitan belajar" adalah "kesulitan belajar spesifik" atau dikenal sebagai dyslexia. Dyslexia berasal dari bahasa Greek yaitu dys berarti kesulitan dan lexis yang berarti bahasa. Dengan demikian, dyslexia bermakna sebagai kesulitan belajar spesifik berupa kesulitan membaca, mengeja, dan menulis yang tidak sebandingdengan tingkat intelegensi anak. Disleksia justru terjadi pada anak yang mempunyai riwayat perkembangan normal dan tingkat kecerdasan yang normal, bahkan di atas rata-rata.

Disleksia terjadi karena adanya perbedaan cara pengolahan input baha-sa/simbol pada otak penyandang disleksia dibandingkan dengan otak anak yang bukan penyandang disleksia. Hal ini berakibat individu penyandang disleksia melakukan proses pembelajaran yang berbeda dari individu lainnya yang tidak disleksia.

Penelitian terkini membuktikan bahwa disleksia merupakan suatu keradaan yang diturunkan (bersifat here-diter) dan terdapat faktor gen tertentu yang bertanggungjawab atas terjadinya keadaan ini. Disleksia biasanya ditunjukkan dengan kesulitan seorang anak terutama saat mengenal huruf, mengenal angka, membaca, menulis, mengeja yang disertai keluhan gangguan konsentrasi serta mudah lupa. Anak juga kerap menunjukkan sikap tidak bisa duduk tenang saat mengikuti pelajaran, duduk selonjoran atau bertumpu pada tangan, grasa-grusu sehingga menjatuhkan pensil atau buku yang ada di mejanya.

Disleksia tidak diakibatkan karena suatu kebodohan dan tidak disebabkan oleh latar belakang sosial ekonomi keluarga yang buruk atau oleh paparan membaca yang kurang ataupun karena anak kurang motivasi belajar. Penyandang disleksia juga biasanya mempunyai talenta khusus yang istimewa di bidang-bidang tertentu. Individu de-
wasa penyandang disleksia yang dikenal luas berprestasi gemilang di antaranya adalah Leonardo da Vinci, Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, dan mantan PM Singapura Mr. Lee Kwan Yew.

Remediasi

Penyandang disleksia membutuhkan remediasi intensif pada aspek baca tulis hitung yang menjadi area "kelemahannya" dengan teknik multisensoris. Artinya, dalam proses belajar dibantu dengan dukungan visual (gambar), au-ditori (suara, lagu), dan kinestetik (gerakan, tekstur). Selain itu, sekolah dapat melakukan berbagai akomodasi seperti memberikan kertas kerja yang ukuran hurufhya lebih.besar dan jarak antarbarisnya lebih jarang. Anak-anak ini juga mungkin perlu didampingi saat menerima instruksi verbal karena sering salah menyimak sehingga salah mengerjakan instruksi. Pada beberapa keadaan, guru dapat mengubah tes tulis menjadi tes lisan atau menambah waktu yang dibutuhkan pada ujian tulis yang diberikan.

Penelitian terkini membuktikan, penyandang disleksia dapat "mengatasi" kesulitan belajarnya dengan lebih baik jika kesulitan belajar ini dikenali dan diintervensi lebih dini. Artinya, para guru dan orang tua serta profesional terkait (dokter anak, psikolog, ortho-pedagog, dll.) membutuhkan keterampilan tambahan untuk dapat mengenali disleksia secara dini dan melakukan intervensi yang komprehensif bagi mereka, bahkan di usia sebelum memasuki sekolah dasar. (Dr. Kristiantini Dewi, SpA., Indigrow, Asosiasi Disleksia Indonesia)

http://bataviase.co.id/node/155495

pada Anak yang Kesulitan Menulis dan Solusinya

pada Anak yang Kesulitan Menulis dan Solusinya

KabarIndonesia -- Kesulitan belajar pada anak, bila tidak dideteksi secara dini dan tidak dilakukan terapi yang benar, bisa menyebabkan kegagalan dalam proses pendidikan anak. Kepedulian orang tua yang tinggi dapat membantu dalam deteksi dini kesulitan belajar anak.

Riwayat penyakit terdahulu, seperti anak pernah mengalami sakit keras hingga demam tinggi, atau anak terlahir prematur, merupakan faktor risiko terjadinya kesulitan belajar. Gangguan berat akan mudah teridentifikasi, sehingga dapat terdeteksi pada usia dini. Sedangkan pada anak dengan gangguan ringan, mungkin baru teridentifikasi saat usia sekolah.

Peran dokter anak pada gangguan kesulitan belajar, terutama ditujukan untuk mendeteksi tumbuh kembang anak sesuai dengan tahapan usianya. Umumnya, anak yang berusia 2 atau 3 tahun belum belajar menulis, namun telah menyukai kegiatan menulis walaupun hanya sekadar coretan yang belum bermakna. Ketika memasuki usia sekolah, kegiatan menulis merupakan hal yang menyenangkan karena mereka menyadari bahwa anak yang bisa menulis akan mendapatkan nilai baik dari gurunya.

Menulis membutuhkan perkembangan kemampuan lebih lanjut dari membaca. Perkembangan yang dikemukakan oleh Temple, Nathan, Burns; Cly: Ferreiro dan Teberosky dalam Brewer (1992) oleh Rini Hapsari:

1. Scribble stage. Tahap ini ditandai dengan mulainya anak menggunakan alat tulis untuk membuat coretan. Sebelum ia belajar untuk membuat bentuk, huruf yang dapat dikenali.
2. Linear repetitive stage. Pada tahap ini, anak menemukan bahwa tulisan biasanya berarah horisontal, dan huruf-huruf tersusun berupa barisan pada halaman kertas. Anak juga telah mengetahui bahwa kata yang panjang akan ditulis dalam barisan huruf yang lebih panjang dibandingkan dengan kata yang pendek.
3. Random letter stage. Pada tahap ini, anak belajar mengenai bentuk coretan yang dapat diterima sebagai huruf dan dapat menuliskan huruf-huruf tersebut dalam urutan acak dengan maksud menulis kata tertentu.
4. Letter name writing, phonetic writing. Pada tahap ini, anak mulai memahami hubungan antara huruf dengan bunyi tertentu. Anak dapat menuliskan satu atau beberapa huruf untuk melambangkan suatu kata, seperti menuliskan huruf depan namanya saja, atau menulis "bu" dengan sebagai lambang dari "buku".
5. Transitional spelling. Pada tahap ini, anak mulai memahami cara menulis secara konvensional, yaitu menggunakan ejaan yang berlaku umum. Anak dapat menuliskan kata yang memiliki ejaan dan bunyi sama dengan benar, seperti kata "buku", namun masih sering salah menuliskan kata yang ejaannya mengikuti cara konvensional dan tidak hanya ditentukan oleh bunyi yang terdengar, seperti hari "sabtu" tidak ditulis "saptu", padahal kedua tulisan tersebut berbunyi sama jika dibaca.
6. Conventional spelling.

Pada tahap ini, anak telah menguasai cara menulis secara konvensional, yaitu menggunakan bentuk huruf dan ejaan yang berlaku umum untuk mengekspresikan berbagai ide abstrak.

Pada anak usia sekolah, perkembangan menulis telah berada pada tahap terakhir, yaitu "conventional spelling". Selain telah dapat menulis dengan huruf dan ejaan yang benar, anak pada usia kelas dua SD telah memerhatikan aspek penampilan visual mereka.

Beberapa anak mengalami gangguan dalam menulis. Kesulitan menulis ini disebut "disgrafia". Ada beberapa ciri khusus anak dengan gangguan disgrafia, di antaranya adalah:

1. Terdapat ketidakkonsistenan bentuk huruf dalam tulisannya;
2. Saat menulis, penggunaan huruf besar dan huruf kecil masih tercampur;
3. Ukuran dan bentuk huruf dalam tulisannya tidak proporsional;
4. Anak tampak harus berusaha keras saat mengomunikasikan suatu ide, pengetahuan, atau pemahamannya lewat tulisan;
5. Sulit memegang bolpoin maupun pensil dengan mantap -- caranya memegang alat tulis sering kali terlalu dekat, bahkan hampir menempel dengan kertas;
6. Berbicara pada diri sendiri ketika sedang menulis, atau malah terlalu memerhatikan tangan yang dipakai untuk menulis;
7. Cara menulis tidak konsisten, tidak mengikuti alur garis yang tepat dan proporsional; dan
8. Tetap mengalami kesulitan meskipun hanya diminta menyalin contoh tulisan yang sudah ada.

Teori konstruksi sosial Vygotsky (Santroks:2004) memiliki tiga asumsi, yaitu:

1. kemampuan kognitif anak dapat dipahami hanya ketika mereka mampu menganalisa dan menginterpretasikan sesuatu;
2. kemampuan kognitif anak dimediasi oleh penggunaan bahasa atau kata-kata sebagai alat untuk mentransformasi dan memfasilitasi aktivitas mental; dan
3. kemampuan kognitif berkaitan dengan hubungan sosial dan latar belakang sosial budaya.

Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut, Vygotsky mengemukakan tiga konsep belajar sebagai berikut.

1. Zone of Proximal Development (ZPD), yaitu suatu wilayah (range) antara level terendah, yaitu kemampuan yang dapat diraih anak jika tanpa bimbingan, hingga level tertinggi, yaitu kemampuan yang dapat diraih anak jika dengan bimbingan.
2. Scaffolding, yaitu teknik untuk mengubah tingkat dukungan.
3. Language and thought.

Aplikasi teori Vygotsky dapat digunakan guru dan orang tua untuk membantu anak yang mengalami disgrafia.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan meliputi:

1. Mengidentifikasi masalah disgrafia, terdiri dari:
1. masalah penggunaan huruf kapital,
2. ketidakkonsistenan bentuk huruf,
3. alur yang tidak stabil (tulisan naik turun), dan
4. ukuran dan bentuk huruf tidak konsisten.
2. Menentukan ZPD pada masing-masing masalah tersebut.
1. ZPD untuk kesalahan penggunaan huruf kapital.
2. ZPD untuk ketidakkonsistenan bentuk huruf.
3. ZPD untuk ketidakkonsistenan ukuran huruf.
4. ZPD untuk ketidakstabilan alur tulisan.
3. Merancang program pelatihan dengan teknik scaffolding. Teknik scaffolding dalam pelatihan ini meliputi tahapan sebagai berikut.
1. Memberikan tugas menulis kalimat yang didiktekan orang tua/guru.
2. Bersama-sama dengan siswa mengidentifikasi kesalahan tulisan mereka.
3. Menjelaskan mengenai pelatihan dan ZPD masing-masing permasalahan.
4. Menjelaskan kriteria penulisan yang benar dan meminta anak menyatakan kembali kriteria tersebut.
5. Memberikan latihan menulis dengan orang tua/guru memberikan bantuan.
6. Mengevaluasi hasil pekerjaan siswa bersama-sama dengan anak.
7. Memberikan latihan menulis dengan mengurangi bantuan terbatas pada kesalahan yang banyak dilakukan anak.
8. Mengevaluasi hasil pekerjaan bersama-sama dengan anak.
9. Memberikan latihan menulis tanpa bantuan orang tua/guru.
10. Mengevaluasi pekerjaan anak.

Pelatihan tersebut diulang-ulang pada tiap-tiap kesalahan disgrafia yang dialami anak hingga terdapat perubahan.

http://lead.sabda.org/disgrafia_pada_anak_yang_kesulitan_menulis_dan_solusinya

Mengajarkan Anak Disleksia Membaca

Mengajarkan Anak Disleksia Membaca

Bayangkan Anda sedang berada di Cina atau Arab. Bayangkan Anda berada di tempat umum yang semua petunjuknya ditulis dengan tulisan Cina atau Arab. Apakah Anda mengerti? Ataukah Anda bingung? Atau malah Anda beranggapan bahwa semua itu hanyalah sebuah tulisan-tulisan keriting yang tidak ada maknanya?

Begitulah kira-kira keadaan anak yang menderita gangguan belajar spesifik disleksia. Mereka terjebak dalam dunia yang penuh dengan tulisan-tulisan yang tidak dimengerti. Istilah disleksia mengacu pada gangguan membaca yang dimiliki oleh seseorang, seperti kesulitan membaca, memahami bacaan, kesulitan membedakan huruf yang mirip seperti b, d, q, p, v, u, n, dan lainnya. Berbeda dengan slow learner, anak yang didiagnosis disleksia harus memiliki IQ rata-rata atau di atas rata-rata.

Jika anak Anda dalam tahap belum bisa membedakan mana huruf-huruf yang mirip seperti b dan d, maka cara pengajaran yang perlu dilakukan adalah mempelajari hurufnya satu persatu. Misalnya fokuskan pengajaran kali ini pada huruf b. Tulislah huruf b dalam ukuran yang besar kemudian mintalah anak untuk mengucapkan sembari tangannya mengikuti alur huruf b atau membuat kode tertentu oleh tangan. Latihlah dan perkuatlah terus menerus sampai ia bisa menguasainya, setelah itu mulailah beranjak ke huruf d.
Browser Anda mungkin tidak bisa menampilkan gambar ini. Browser Anda mungkin tidak bisa menampilkan gambar ini.

Terdapat dua cara untuk mengajarkan anak membaca kata-kata: melihat dan mendengar kata tersebut satu persatu. Buatlah kata yang dicetak dalam ukuran besar – misalnya ‘buku’, setelah itu kita ucapkan ‘buku’, lalu mintalah anak mengulangi apa yang kita ucapkan yaitu ‘buku’. Tunjukanlah kata tersebut terus menerus, tambahkanlah beberapa kata yang sudah ia ketahui, hingga ia mengenali dan dapat mengucapkannya langsung begitu ia melihat kata ‘buku’.

Ada beberapa anak yang sudah bisa membaca namun ia memiliki masalah dengan pemahaman (comprehension). Menurut Baumer (1996) ada beberapa cara mengajar jika pemahaman anak Anda lemah:
1. Memilih cerita yang menarik pada level dimana 98% ia bisa memahami kata-kata dalam cerita tersebut. Mintalah ia untuk membacakan secara keras dan bilang kepada kita apa yang telah ia baca.
2. Jika anak tidak bisa melakukan ini, mintalah ia membaca tanpa bersuara, berhenti setiap paragraph dan menceritakan kepada kita apa yang telah ia baca.
3. Ketika pemahamannya berkembang, tambahkan jumlah paragraph yang ia baca hingga ia bisa membaca dan paham keseluruhan halaman.
4. Untuk membantu pemahamannya, Anda bisa memberikan arahan: menurutmu apa yang dirasakan si tokoh? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Bagaimana akhir ceritanya?

Berdasarkan pengalaman saya mengajarkan anak disleksia, sebelum kita mengajarkannya mengenai pemahaman, kita harus mengidentifikasi sejauh mana kemampuannya. Jika ia tidak mampu memahami satu halaman, potonglah menjadi beberapa paragraph. Jika ia tidak bisa memahami beberapa paragraph, potonglah menjadi satu paragraf, dan seterusnya hingga sampai pada satu kalimat.

Membaca cerita bersama anak dirasa cukup efektif karena kita bisa langsung cross-check langsung pemahamannya. Misalnya ketika anak tidak paham kata ‘terbit, kita bisa menganalogikan ‘terbit’ dengan bertanya ‘kalau pagi hari, matahari muncul atau menghilang?’ lalu ketika anak menjawab ‘muncul’ kita menjelaskan bahwa itulah yang dimaksud dengan ‘terbit’. Menganalogikan kata-kata tidak dimengerti dapat mengajarkan anak untuk memberi tanda kata-kata yang belum ia pahami.

Dalam mengajari anak disleksia, kita harus hati-hati untuk tidak mengkritik terlalu jauh karena anak yang menderita disleksia rawan untuk memiliki motivasi dan self-esteem yang jatuh. Ketika anak mulai menyadari ia memiliki kesulitan dalam membaca dan ia sudah tertinggal jauh dari teman-temannya, ia akan membenci pelajaran membaca dan langsung menyerah (mogok) ketika menghadapi kata yang sulit. Aksi mogok ini bisa disiasati dengan cara belajar membaca melalui minatnya. Misalnya pada anak yang memiliki minat memasak, kita bisa mengajarkan membaca resep dan menyuruhnya memasak. Dari situ kita melihat sejauh mana pemahamannya terhadap bacaan.

Mengajar membaca anak disleksia adalah proses yang tidak mudah. Anak disleksia memiliki short term memory yang terbatas dan kosa kata yang minim sehingga membutuhkan banyak penguatan. Variaskan metode melalui permainan kata atau mengajak anak jalan-jalan sambil mengajari membaca tulisan-tulisan yang ada. Dan hal yang terpenting dalam proses pembelajaran ini adalah berilah apresiasi pada sekecil apapun perkembangannya.

http://ruangpsikologi.com/mengajar-membaca-anak-disleksia

Membantu disleksia dengan homeopati, terapi visi, syntonic terapi cahaya dan mikro stimulasi

Membantu disleksia dengan homeopati, terapi visi, syntonic terapi cahaya dan mikro stimulasi
Perilaku dan masalah-masalah perkembangan pada anak-anak adalah isu-isu sosiologis luas di Amerika Serikat saat ini. Belajar cacat, keterbelakangan intelektual, disleksia, attention deficit / hyperactivity disorder (ADHD), autisme, dan kecenderungan kekerasan yang akhirnya didiagnosis pada 3% dari semua anak yang lahir di Amerika Serikat.

disleksia

Apa penyebab disleksia ?
Hal pertama yang perlu dikatakan adalah disleksia yang tidak disebabkan oleh orangtua miskin. Sulit untuk percaya bahwa sebagai terakhir sebagai para ahli tahun 1960 miskin merasa bahwa orangtua bertanggung jawab untuk disleksia, autis dan bentuk-bentuk gangguan belajar.

Philip J. Landrigan, seorang dokter anak yang kursi Departemen Kedokteran Komunitas dan Pencegahan di Mount Sinai Medical Center di New York mengatakan bukti yang dipelajari bahwa gangguan ini mungkin berhubungan dengan paparan bahan kimia di lingkungan.

Disleksia dan kesulitan belajar lainnya telah dikaitkan dengan imunisasi. Peningkatan ini berkorelasi dengan waktu bahwa dunia mulai administrasi vaksin kepada anak-anak pada tahun enam puluhan. Dalam buku itu masalah kesehatan terkait dengan imunisasi, DPT: A Shot in the Dark, Coulter dan Fisher, penulis, diperkirakan 12.000 sampai 15.000 kasus kerusakan saraf disebabkan oleh vaksin anak setiap tahun Coulter melanjutkan ke situs berikut: "Satu anak di lima atau enam dipengaruhi, sampai tingkat tertentu, oleh vaksinasi ... sekitar 20 persen dari populasi!

Sedangkan memimpin telah lama diakui sebagai neurotoxin kuat, hanya selama 20 tahun terakhir bahwa tingkat risiko rendah telah dikaitkan dengan defisit pada anak-anak. Dalam studi tengara dari anak sekolah kelas pertama dan kedua dari kota Chelsea dan Somerville, Massachusetts, yang diterbitkan dalam edisi 29 Maret 1979 dari New England Journal of Medicine, Needleman menemukan bahwa perilaku seperti distractibility, penurunan ketekunan, ketergantungan, dan melamun secara signifikan berkorelasi dengan peningkatan kadar timbal pada gigi anak-anak. Temuan ini memberi kontribusi kepada hipotesis yang lebih baru, bahwa dalam beberapa kasus mungkin memainkan peran utama dalam pengembangan disleksia

Mewarisi faktor
Jelas bahwa disleksia sangat sering dijumpai dalam keluarga, dan sering disertai dengan kidal suatu tempat dalam keluarga. Ini tidak berarti mengatakan bahwa orangtua disleksia secara otomatis akan memiliki anak disleksia, atau bahwa seorang anak kidal tentu akan disleksia. Tapi di mana disleksia diidentifikasi, antara ketiga dan setengah anak-anak memiliki kesulitan belajar sejarah dalam keluarga mereka, dan lebih dari separuh mempunyai anggota keluarga yang kidal.

Mendengar masalah pada usia dini.
Jika seorang anak sering menderita pilek dan infeksi tenggorokan dalam lima tahun pertama, telinga dapat diblokir dari waktu ke waktu sehingga pendengaran yang terganggu. Orang tua bisa dengan mudah menyadari dokter ini sampai benar-benar melihat ke telinga anak. Kondisi ini kadang-kadang dikenal sebagai 'telinga lem' atau 'kehilangan pendengaran konduktif'. Jika kesulitan tidak melihat pada tahap awal, maka otak yang sedang berkembang tidak membuat link antara mendengar suara itu.
Ini pembelajaran awal suara dan kata-kata merupakan dasar kemampuan anak berkembang untuk menangani bahasa dan teks. Jika anak tidak dapat mendengar dengan jelas, ia tidak akan bisa mendengar perbedaan antara kata-kata seperti 'pin' dan 'tipis', atau 'penggemar' dan 'van'. Kurangnya pendengaran yang jelas juga akan menunda kesadaran fonemik anak - kemampuan untuk mendengar bahwa kata-kata yang terdiri dari suara kecil dan suku kata, seperti 'kucing', atau 'in-ter-est-ing'.

Membantu disleksia dengan homeopati, terapi visi, syntonic terapi cahaya dan stimulasi mikro.

Sebagai Dewan imun bersertifikat dan dokter homeopati, saya telah tertarik pada terapi alternatif untuk pengobatan disleksia. Pada Menyembuhkan Eye Center kami menggunakan metode yang bebas narkoba dan memperkuat sistem visual, pikiran dan tubuh.
Disleksia adalah ketidakmampuan belajar pengolahan informasi normal. Orang dengan kelainan ini mengalami kesulitan dengan bahasa tertulis, khususnya membaca dan ejaan. Ada bukti bahwa disleksia hasil dari bagaimana otak proses tertulis dan / atau bahasa lisan. Karena sistem visual yang memberikan kontribusi hampir 80% dari informasi ke sistem saraf kita, fokus saya pengobatan telah di fungsi sistem visual. Dengan meningkatkan efisiensi sistem visual banyak penyandang cacat disleksia dapat dikurangi atau dihilangkan.

Homoeopati
Homeopati adalah metode ilmiah terapi berdasarkan prinsip merangsang proses tubuh sendiri penyembuhan untuk mencapai menyembuhkan. Sistem dasar telah dibuat dan diverifikasi oleh Samuel Hahnemann, seorang dokter Jerman, hampir 200 tahun yang lalu. tingkat keberhasilan yang menakjubkan Homeopati di kedua kronis dan akut penyakit telah mengakibatkan tidak hanya berdiri ujian waktu, tetapi juga cepat mencapai penerimaan luas di Eropa, India dan Amerika Selatan.
Dalam Homeopati ("homeo-" berarti "sama"), masing-masing dari kita adalah individu yang total dan lengkap, tidak ada aspek yang dapat dipisahkan dari yang lain. Agar efektif, setiap terapi yang valid harus didasarkan pada pemahaman yang mendalam dan menghormati keunikan setiap individu. Dalam homoeopati setiap pasien dievaluasi secara keseluruhan orang-mental, emosional dan fisik. Obat resep didasarkan pada pola khusus yang ditemukan pada ketiga tingkat. Ini berarti bahwa setiap orang diberi obat yang akan merangsang tubuh tertentu nya untuk menyembuhkan. Sepuluh orang dengan disleksia mungkin menerima sepuluh obat homeopati yang berbeda.
Maria Chivers, Penulis Disleksia Dan Alternatif Terapi, menyatakan bahwa "Homeopati membantu tubuh untuk mengatasi penyakit dengan merangsang pertahanan alami proses dari dalam"

Visi terapi
Banyak gejala yang umumnya terkait dengan disleksia juga dapat merupakan hasil dari masalah penglihatan. Visi alamat terapi masalah yang disebabkan dari kelemahan pada otot mata dan masalah lain, melalui serangkaian sesi latihan dan keterampilan-bangunan, atau dengan perangkat fisik seperti lensa khusus.
Ada beberapa keterampilan visual dasar yang penting untuk membaca. Yang pertama adalah pencarian atau kemampuan untuk mengikuti sasaran yang bergerak. Ketika membaca, perlu untuk mengikuti dan melacak kata-kata secara berurutan. Miskin pursuits menyebabkan hilangnya tempat Anda dan melompat maju mundur saat membaca. keterampilan lain adalah gerakan saccadic. Ini adalah kemampuan untuk mengubah fiksasi. Ketika datang ke akhir kalimat perlu untuk mengubah fiksasi ke baris berikutnya. Dua contoh umum dari masalah yang dapat diatasi dengan terapi visi pelacakan atau masalah konvergensi. Pelacakan berarti 'bahwa seseorang tidak dapat menggunakan mata mereka untuk memindai teks kiri-ke-kanan. 'Konvergensi' atau 'bekerja sama' berarti bahwa kedua mata tidak bekerja sama dengan baik, sehingga orang dapat melihat ganda, atau mungkin kurangnya visi berkenaan dgn teropong. Ada latihan khusus mata untuk mengembangkan keterampilan ini untuk membantu mata bekerja lebih baik dan lebih efisien.

Syntonic terapi cahaya.
Sistem otonom memiliki dua bagian, yaitu simpatis dan parasimpatis. The simpatik bertanggung jawab untuk kelangsungan hidup atau "melawan atau" penerbangan, dan parasimpatis bertanggung jawab atas tubuh mempertahankan hidup, seperti pencernaan dan penyakit penyembuhan. Ketika Anda melarikan diri dari beruang grizzly, tubuh Anda tidak peduli dengan mencerna makanan Anda! Stres - ya kita telah mendengar kata itu - STRES tentu memberikan kontribusi terhadap penyakit dan stres juga dapat menjadi bahan bakar yang mendukung penyembuhan penyakit dan mencegah Mekanisme stres dapat di-merangsang sistem saraf simpatik dan menekan parasimpatik.. Ketika sistem parasimpatis ditekan, tubuh memiliki waktu yang sulit untuk menyembuhkan penyakit. Penyembuhan tidak akan terjadi kecuali ada keseimbangan dalam sistem otonom. Terapi Warna dapat membantu. Spektrum merah telah didokumentasikan untuk merangsang sistem simpatik Tidak, kita tidak ingin ini karena sebagian besar kehidupan kita. Mengurus ini sangat bagus! Warna merah dikaitkan dengan marah dan peningkatan denyut jantung dan peningkatan tekanan darah. Biru, di sisi lain, akan bersantai sistem simpatis dan parasimpatis merangsang. Ini adalah langkah pertama menuju penyembuhan penyakit. Pikirkan tentang bagaimana santai air laut biru dan langit biru dapat! A liburan ke pantai bisa sangat penyembuhan.
Dalam disleksia, bidang visual atau bidang penglihatan tepi sering berkurang. Hal ini membuat kegiatan membaca dan dekat lainnya sangat sulit. Bayangkan mencoba membaca melihat melalui pembukaan kecil inci! Light terapi dapat membantu untuk memperluas lapangan visual dan membuka penglihatan tepi.

Mikro
Mikro yang telah digunakan selama 15 tahun terakhir untuk membantu meningkatkan visi. Mekanisme dirasakan menjadi tiga kali lipat, meningkatkan sirkulasi darah ke mata, merangsang fungsi sel-sel retina, dan mungkin dalam regenerasi sel. Pengaruh 10-500 amp mikro pada tingkat sel telah didokumentasikan oleh Dr Cheng untuk meningkatkan produksi ATP oleh 500%, meningkatkan sintesis protein sebesar 70% dan meningkatkan transportasi sel sebesar 40%.

Sebuah teknik baru, yang disebut Frekuensi mikro Tertentu (FSM) telah menghasilkan perbaikan dramatis dalam pengobatan berbagai gangguan mata. Akar mikro Frekuensi Tertentu (FSM) tanggal kembali ke awal 1900-an Dr Albert Abrams, yang merupakan dokter pertama mampu mendeteksi radiasi dari jaringan hidup untuk menggunakan instrumen dikalibrasi. Dr Abrams menyimpulkan bahwa semua materi memancarkan energi elektromagnetik dan karakteristik dari radiasi tergantung pada struktur molekul yang unik.
Modern FSM menggunakan ratusan frekuensi dalam kisaran ,01-999 Hz dengan berbagai intensitas 20-600 amp mikro.

Dalam perawatan disleksia, berbagai frekuensi digunakan untuk menyeimbangkan sistem saraf otonom, menstimulasi aktivitas sistem visual dan pusat belajar.

http://www.arizonahomeopathic.org/id/vision-therapy/helping-dyslexia-with-homeopathy-vision-therapy-syntonic-light-therapy-and-microcurrent-stimulation/